Buruk sangka pada MUI, suudhzhon namanya.


Buruk sangka, biasanya para ustad menyebutnya su udzhon. silahkan koreksi penulisannya.

Akhir-akhir ini, media kembali ribut tentang masalah BBM, penyebabnya tak lain adalam fatwa MUI yang mengharamkan BBM bersubsidi bagi yang orang berkecukupan. Sibuk media mengulasnya dari media cetak dan elektronik.

Kecenderungan sebagian besar media di Indonesia memang sangat cepat terseret arus bahkan gelombang besar pemberitaan. Satu saja topik yang hangat dan kira-kira menarik untuk dibaca dan di dengar akan cepat tersebar hampir diseluruh media dengan fokus yang sama namun hanya beda cara mengulasnya. Hingga tak ada isi berita yang lain untuk dibahas.

Namun, namanya juga media, informasi baik dan buruk akan sangat cepat di respon. Bahkan media juga seperti tak punya malu untuk meralat pemberitaannya dengan cara meminta maaf jika ada pemberitaan mereka yang salah atau bahkan tidak benar sama sekali atas nama kebebasan pers.

Mungkin itu saja. Dan ketika fatwa MUI itu ternyata tidak pernah keluar dari lembaga MUI sendiri, aku kira media akan menutupinya dengan memperhalus isi berita atau tidak membicarakannya sama sekali, tak seperti awalnya bersemangat ketika ada issu mengenai fatwa tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Majelis Ulama Indonesia (MUI) tak pernah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan orang kaya yang menikmati premium bersubsidi. Bahkan MUI juga tak punya rencana untuk memfatwakan hal ini.

Namun yang berkembang di tengah- tengah masyarakat, seolah- olah MUI sudah punya fatwa tersebut. Bahkan juga berkembang fatwa tersebut merupakan fatwa ‘pesanan’.

Sekjen MUI,  Ichwan Sam dalam konferensi pers di kantor MUI menegaskan, persoalan ini bermula saat KH Ma’ruf Amin, dari Komisi Fatwa MUI ditanya wartawan dalam sebuah kesempatan.

Saat itu wartawan menanyakan bagaimana hukumnya kalau orang kaya membeli premium yang notabene merupakan barang subsidi untuk rakyat miskin.

“Secara spontan KH Ma’ruf Amin menjawab, sesuai standar umaroh (pemerintah) –yang membuat aturan– premium disubsidi untuk orang tak mampu. Kalau ada orang kaya yang membeli atau menikmati berarti sama saja mengambil hak orang miskin. Itu tidak pantas,” jelasnya.

Dari sini, masih ungkap Ichwan, kabar yang keluar di media massa beragam. Seolah-olah MUI akan segera mengeluarkan fatwa haram bagi orang kaya jika beli premium.

Lebih parah lagi ini fatwa pesanan setelah bertemu menteri ESDM. “MUI datanag ke kantror menteri ESDM tak diundang. Namun karena MUI memiliki program yang harus disinergikan bersama pihak lain, dan bukan soal fatwa premium,” imbuhnya.

sumber

dan sekali lagi, masyarakat akan semakin di jejali dengan prasangka-prasangka! waspadalah.

at my desk

2 thoughts on “Buruk sangka pada MUI, suudhzhon namanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s