Berkeliling Dunia


Itu salah satu keinginanku.

Jauh semasih aku masih usia kanak-kanak, aku mungkin terpana melihat dunia dalam Televisi. Kehidupan orang-orang, dan berbagai macam tempat di luar sana. Tapi satu hal yang perlu di garis bawahi, aku tidak pernah berfikir bahwa keasyikanku waktu itu mungkin akan terwujud. Mungkin, sekarang aku belum mengelilingi dunia seperti Ibnu Batutah sang legendaris petualang Muslim itu.
Bahkan Indonesiapun belum ada apa-apanya aku jelajahi. Pulauku sendiripun belum pernah ku kelilingi.

Pulau Lombok yang indah merekah, dari Labuhan Haji hingga Lembar. Rinjani Memukau tinggi dengan Sembalun desa yang menyejukkan. Menjulur ke Tepian Kute diselatan, hingga Senggigi di arah barat daya.

Kemudian menongak Jauh melintas batas Pulau-pulau hingga Benteng di Selayar dan terus menjauh lagi ke Utara mengarah ke ujung Kepulauan Talaud di antara beningnya rumpun Minahasa, Manado kota Berhikmat, Malalayang hingga Bunaken, Bitung dengan pelabuhannya, Pulau Lembe, Menapaki jalan Menuju Tomohon kota Bunga menyusurinya menuju Tondano dengan Danau birunya. Dengan pemandangan lereng bunga Gunung Lokon menaiki Bukit Kasih di atas pemandangan kota Manado. Mengalirkan nafas ke Bolaang Mongondow dengan decak Bentor Kotamobagu. Sitou Tumou Tou yang kurindukan dengan kawan-kawan yang lama tak berjumpa.

Kemudian turun jauh kembali hingga ujung Tenggara Sulawesi, Melewati Kendari yang Bertakwa. Dengan Purna Lapangan MTQ, menyisir pertokoan Uwa-Uwa. Hingga memasuki Hutan lebat ke Arah Konawe yang panjang hingga tiba di Pelabuhan Kolaka kota kecil dengan raja Antam yang penuh emas perak. Toshiba ke utara menyisir pantai hingga di Lasusua. Gunung di keruk jadi emas, Lapangan Golf Pomalaa hingga Lapangan terbang peninggalan Jepang di Tanggetada, dengan pantai Watubangga menebus ke Bombana. Kenangan yang tak akan terlupa.

Hingga saatnya kembali berlayar dari Kolaka dengan iringan lumba-lumba Teluk Bone selama 12 jam, tiba subuh di Pelabuhan Bone. Menaiki Avanza, menyusuru turun naiknya Watampone, lapangnya Maros hingga tiba di Kota terbesar wilayah Timur Makassar.

Terbang kembali meratapi pergiku dari Tanah Sulawesi. Sejenak di bandara Soekarno-Hatta. 1 jam 40 menit kembali di udara. Dan berputar melihat petak-petak Kelapa Sawit bumi Bertuah Pekanbaru. Lancang Kuning yang gagah perkasa, bersih nan teratur. Kembali bertemu orang-orang baik, jahat, setengah baik dan setengah Jahat.

Hingga suatu hari menaiki bus menuju Padang. Melewati H.R Soebrantas Panaam dengan komplek luas UnRi yang kebanyakan semak-semak belukar memasuki Desa Kampar Hingga tiba di Bangkinang untuk sejenak Mengingat Allah. Dalam takbir, Allah MAHA BESAR. Dingin malam, gerimis kecil berkelok-kelok di Kelok Sembilan, hingga lembah Harau Limapuluhkota Payakumbuh. Di awali sejuk Agam hingga Bukittinggi. Benteng-benteng Penjajah Port de Kock. Sisa-sisa Lubang Jepang. Ngarai Sihanok dan membelah gunung Singalang turun berpusing-pusing dan berdebar-debar di Kelok empat puluh empat hingga sepi riak air Danau Maninjau berbalik ke Bukit tinggi.

Bukit yang tinggi menuruni Tanah Datar yang sebelumnya di Padang yang Panjang, menyisir Danau Singkarak memasuki Kota Solok, dan naik ke Kebun Teh Nusantara hingga malam tiba dan dingin menusuk tulang di antara penginapan Danau Kembar.

Lembah anai yang menjadi saksi aku rindu padamu… (lhoooo…ini maksudnya apa??)

Pariaman menyusuri pesisir Selatan jauh ke jembatan Akar yang sepi orang-orang, Padang dengan Teluk bayur dan kisah kedurhakaan yang terekam di Pantai Malin Kundang.

Semua masih seperti hanya mimpi. Entah esok mimpi kemana lagi.

Jadi Bermimpilah!

Makkah, Madinah Al Haramain dengan keberkahan yang ada pada keduanya semoga menjadi tempat pertama selain Indonesia yang akan kusinggahi.

Negeri para Nabi, daerah magribi hingga Bekas Instana Al Hambra, jauh menembus bayang-bayang kota-kota Eropa dengan Pengunungan Alpennya. Sugai Rhein, atau Jalan-jalan sungai di Paris hingga Finlandia. Negara Kota Luexemburg. dan di pinggir Istambul di tepian laut tengah. Matinya ikan asin di Laut Mati dan Bukhara tempat asal sang Perawi Hadist. Menembus Jalan Sutra melewati negeri para Mullah yang hancur oleh musuh-musuhNya. Memasuki wilayah pemikir-pemikir parsi, berbalik hingga puncak Averest, Jantung dunia Nepal hingga mencapai Tirai Bambu, melihat nuklir di semenanjung Korea, dan menyaksikan sisa Bom Atom di Hirosima.

Memandang jauh menembus Samudra Pasifik hingga tepian daerah yang konon di temukan Colombus. menurun ke Negeri para Matador. Memberontaknya Castro dan si Che yang kiri itu. Panama dan kepulaun kecil disana. Melihat pertandingan-pertandingan bola, dan lebatnya hutan Brazil Argentina.

Benua hitam dari ujung kota-kota kebesaran Islam masa lalu, Alexandria, Tripoli hingga mencium saluran-saluran Sungai Nil menuju pantai gading. Pulau Madagascar!

dahsyat!!!!!

Wah, meski belum tersebut semuanya. waktu yang akan membuktikannya..

Meskipun masih hanya mimpi.

Oktober 13, 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s